Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the divi-booster domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121

Deprecated: Optional parameter $post_types declared before required parameter $location is implicitly treated as a required parameter in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-content/plugins/monarch/monarch.php on line 3783

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the feeds-for-youtube domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121
Komunitas Sego Gurih Blusukan dengan Lakon “Bleg-Bleg Thing” | Kelompok Sedhut Senut

Pertunjukan kali ini produksi yang ke 25 sejak berdiri pada tahun 1998 (terhitung secara urutan waktu kronologisnya). Lakon Bleg-Bleg Thing ini merupakan karya Komunitas Sego Gurih (KSG) yang ditulis oleh Yusuf Peci Miring. Salah satu pemain yang kini mulai berproses secara serius untuk menciptakan lakon dengan mandiri. Produksi pertunjukan ini menjadi bagian dari kerja sama dengan beberapa teman dari komunitas otomotif yaitu JHC Yogyakarta (Jogja Honda Classic). Rekanan secara komunitas ini yang kemudian membuka jalan untuk KSG kembali “blusukan” ke desa/kampung menggelar pertunjukan. Pertunjukan dimulai secara berurutan, di mulai pada Sabtu 9 April 2011 di Dusun Karangber Goasari Pajangan Bantul, 11 April 2011 di Sanggar Bunga Padi Dobangsan Giripeni Wates, 14 April 2011 di Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul, 17 April 2011 di Dusun Kweni RT 06 Panggungharo Sewon Bantul. Di sini akan dipaparkan satu persatu peristiwa pertunjukan yang sudah berlangsung. Uraiannya sebagai berikut :

Dusun Karangber Goasari Pajangan Bantul DIY

Sore menjelang malam Dusun Karangber terlihat begitu ramai. Beberapa warga masyarakat seperti layaknya mempersiapkan sebuah perhelatan. Tepat di halaman rumah depan Mas Klinting (teman JHC yang menyediakan tempat pertunjukan) begitu riuh. Anak-anak kecil berlarian melihat lampu terpasang di sela-sela pohon bambu, ada juga kabel yang membentang dari pohon satu ke pohon yang lain. Semua nampak biasa saja, halaman luas itu di setting menjadi sebuah ruang untuk pertunjukan. Merespon lingkungan sekitar dengan memperlakukan semuanya sehingga menjadi dekorasi alamiah.

Pertunjukan sesuai undangan akan dimulai 19.30 wib. Undangan disebar oleh beberapa teman karang taruna pemuda Dusun Karangber. Kami menemukan salah satu undangan lalu kami baca cukup membuat geli. Undangan tersebut berbunyi demikian “mengharap kehadiran Bapak / saudara / i pada pertemuan yang akan diselenggarakan pada :

Hari : Sabtu, 9 April 2011

Pukul : 19.30 – selesai

Tempat : Rumah Bapak Rozan

Acara : Pentas drama / wayang wong

Satu yang membuat kami spontan tertawa saat itu dengan membaca kata ‘pentas drama / wayang wong’. Itulah istilah yang kemudian mereka nilaikan untuk KSG. Masyarkat yang kemudian banyak cara untuk membahaskan sebuah tontonan tiban seperti komunitas seni milik kami. Menurut hematnya sah-sah saja, karena itulah masyarakat yang mungkin salah satunya masih asing dengan istilah teater. Kami tidak perlu mempersoalkan itu, dan kami juga tidak berhak menyalahkan. Biarkan saja.

Semua pemain setelah selesai make up lalu mencoba garis laku menyesuaikan keadaan di lapangan. Karena biasa terjadi apa yang sudah dilatihkan selama berbulan-bulan, kadang akan meleset jauh dari perkiraan keadaan di lapangan. Orientasi kami lakukan guna untuk mengatur hal-hal teknis seperti keluar masuk tokoh yang kaitannya dengan kondisi setting alamiah itu. Ditambah lagi untuk menyesuaikan logika panggung dan realitas panggung berikut atmosfer lingkungan sekitar.

Jam menunjukan pukul 19.15 wib, Mas Klinthing memberitahukan bahwa warga dusun tidak jadi menampilkan kesenian Hadrah. Dikarenakan mereka mempunyai tradisi jika menampilkan kesenian tersebut biasanya melantunkan puji-pujian sepanjang ayat kitab suci. Jadi jika hanya persoalan waktu yang disediakan panitia dirasa kurang cukup mengakomodasi kesenian Hadrah tersebut. Kesenian Hadrah tadi dimaksudkan sebagi pembuka acara sebelum masuk ke pertunjukan Bleg-Bleg Thing. Namun karena persoalan tradisi lantunan pujian Hadrah harus satu kitab selesai kami harus memaklumi itu. Inilah nilai tradisi masyarkat yang harus kami hormati. Kami tak berhak memaksakan sebuah tampilan dengan memangkas bagian inti yang tersurat ataupun tersirat demi kebutuhan tontonan. Kompromi selesai dilakukan semua akhirnya bisa memahami bersama secara kekeluargaan.

Pertunjukan dimulai jam 20.00 wib dibuka dengan aksi sulap oleh rekanan KSG yaitu Santo. Santo tampil saat malam agak gerimis, ia berdandan serba hitam dengan goresan eye liner mengesankan seorang magician profesional. Sesekali terlontar kalimat dengan bahasa inggris untuk menambah varian dialog interkatif bersama penonton. Santo cukup bisa membawa suasana sangat bersahabat dan mampu melibatkan beberapa warga sebagai bagian dari aksi sulapnya. Dua aksi sulap yang ditampilkan Santo, lalu di susul kemudian Pepok membuka pertunjukan sebagai MC.

Adegan dimulai dengan beberapa tokoh bocah 1,2,3 dan 4 bermain benthik (permainan tradisional Jawa). Sebelum bermain mereka melantunkan lagi yang di iiringi oleh pemusik yaitu ada Katrok, Iwang, Bagya, Wisnu dan Jipna. Alat yang digunakan seperti kendang, saron laras diatonis dan suling. Lagu yang dinyanyikan sebagai theme song pertunjukan malam itu sebagai berikut :

Aku nduwe dolanan sing lucu, perahu cilik tak kelek ke banyu, sesok gedhe dadi tukang perahu bayarane satu sewidak ewu. Lagu ini dirasa cukupmembuka adegan awal yang cukup riang dan bersemangat.

Munculah sosok tokoh bernama Sae (Ali As’ad) dengan menggendong kandang merpati. Sambil membawa barbel dari kaleng bekas yang dicor semen untuk angkat besi. Menirukan gaya seorang atlet angkat besi, pada bagian tertentu Sae beraksi dengan gesture pantomime. Seolah meyakinkan penonton dengan adegan bisu bercampur gerak tubuh yang begitu lentur. Adegan tersebut menjadi hidup ketika Lik Seni (Rendra Bagus) masuk dalam percaturan dialog yang membahas masalah profesi sehari-hari. Ditambah masuknya Jarno Gaet (Andi Pepok) sebagai pemuda berprofesi sebagai guide yang begitu yakin dengan dirinya, karena merasa orang yang paling tau pendidikan dibanding yang lain.

Ketiga tokoh ini yang menggiring persoalan kenapa pendidikan begitu penting untuk terus ditanggapi dan dikritisi. Apalagi diperkuat oleh Yu Siti (Teteh) seorang bakul tenong yang menjadikan dialog masalah pendidikan itu semakin mengkerucut tajam. Sebagai babak kedua bocah 1, 2, 3, dan 4 muncul layaknya bocah yang begitu senangnya menikmati dunianya dengan permainan tradisional. Mereka keluar dengan melantunkan lagu : baris rampak sing urut kacang, keplok-keplok-keplok, tangan lembeyan diulang dua kali ditambah dengan gerak tubuh yang begitu menggambarkan ciri khas seorang bocah sedang bermain. Lantunan lagu ditambah lagi dengan theme song “Aku nduwe dolanan sing lucu, perahu cilik tak kelek ke banyu, sesok gedhe dadi tukang perahu bayarane satu sewidak ewu”. Permainan yang mereka lakukan yaitu delikan / wilwo(jawil tuwo). Adegan ini cukup membawa tawa riang anak-anak dusun, karena seperti menikmati dunia mereka sendiri.

Adegan permainan bocah-bocah ini disambut dengan Jasmani (Wawan) seorang pemuda yang bergaya mirip anak kota. Keluar dengan dandanan trendi lengkap dengan earphone ditelinganya sambil menyanyikan lagu-lagu pop. Gambaran pemuda tanggung pengangguran yang tak jelas kegiatannya. Jasmani di babak ini merangkai konfliknya dengan Mak Nah (Dita) seorang wanita tua yang keluar dari rumah hanya menggunakan kotang dibalut kain jarik (kemben) sekaligus wajah putih (bobok : masker tradisional jawa yang berasal dari beras ditumbuk). Babak inimenjadi varian dialog yang begitu cair karena hadir ditengah permainan bocah-bocah. Menjadi bagian kerumitan / komplikasi jalinan kejadian (lihat Gustav Freytag).

Kembali di tengah asiknya permainan bocah-bocah munculah Mak Girah (Widya) yang ribut mencari salah satu anaknya bernama Bardin. Tokoh imajiner yang menjadi pemicu persoalan kenapa Bardin pergi dan tidak pulang lantas dinyatakan hilang. Hilangnya Bardin lalu dikaitan dengan mitos Den Baguse Endro, seorang penunggu jembatan dekat sungai. Mitos ini selalu dikuatkan ketika dalam cerita Den Baguse Endro sering sekali menjegal orang kemudian tercebur ke sungai. (mitos Den Baguse Endro ini diambil dari kampung Sagan – Iromejan. Menurut informasinya mitos Den Baguse Endro itu sesosok roh halus penunggu jembatan yang menjadi perbatasan kampung Sagan Wetan dengan Iromejan).

Mitos ini semakin diperkuat dengan upacara Bleg-Bleg Thing yang di pimpin oleh Mbah Dukuh Dongkol (Sawito). Ritual ini dilakukan dengan keliling kampung mencari orang hilang, diakhiri dengan memanjatkan doa disekitar dapuran pring (pohon bambu yang menggerombol). Dalam upacara diikuti oleh Pak Turah (Elyandra) dan Jono Kethek (Kadir) beserta tokoh yang lain yang sudah muncul di adegan awal. Ritual ini semakin menguatkan masyarakat bahwa kekuatan mitos itu masih dipelihara dengan rapi disetiap jaman. Dalam ritual ini Mbah Dukuh Dongkol melantunkan tembang Pangkur “singgah-singgah kala singgah, pansuminggah durgakala sumingkir, singa hama singa wulu, lansuku singa sirah, singa tenggak miwah kala singa buntu, padha sira suminggaha, muliha ning asal neki”. Adegan ini cukup menggiring penonton untuk mengepung semua pemain di sekitar dapuran pring menjadi peristiwa ritual yang benar-benar khusuk.

Peristiwa menjadi semakin menegang secara dramatic, ketika jenazah Bardin dikabarkan ketemu di dekat jembatan dimana Den Baguse Endro menganggu. Penonton serasa ikut hanyut dalam adegan ini. Kebingungan antara beberpa tokoh membuat suasana tergiring pada atmosfir yang serba kalut. Ditambah menjelang ending cerita ketika kabar dimana pohon sukun itu runtuh dimana Bardin terakhir bermain bersama bocah yang lain. Pohon sukun ini menjadi penanda kepergian Bardin pertama kali, karena waktu delikan itu ditemukan sandal Bardin dibawah pohon sukun itu.

Suasana akhir adegan tampak semakin larut, penonton diam sesaat dan tampak sepi tanpa suara. Padahal dari awal penonton cukup cair mengikuti adegan itu. Dialog kedua tokoh yang dituakan setelah Mbah Dukuh Dongkol,

Lik Seni : iki sasmitane opo Pakde ?

Pak Turah : iki pancen sasmitane..

Menjadi titik dimana penonton kembali dibenturkan dengan tanda dan mitos yang bercampur dengan logika. Logika menyikapi kematian Bardin. Inilah puncak akhir dari pertunjukan di Dusun Karangber Goasari Pajangan. Pemain semua keluar memberikan hormat dan menyanyikan bersama lagi theme song awal untuk mengakhiri pertunjukan.

Sanggar Bunga Padi Dusun Dobangsan Giripeni Wates DIY

Sore itu rombongan pemain dan tim setting datang ke lokasi sekitar jam 16.15 wib. Kami datang melihat lokasi masih sepi hanya terlihat Mas Agung (pemilik Sanggar Bungapadi) hanya ditemani tetangganya memasang tikar, dan mempersiapkan peralatan sound untuk pertunjukan nanti malam. Karena dari pagi hujan turun di sekitar Yogyakarta, menyebabkan kontur tanah disekitar tempat pementasan menjadi berair dan menggenang (nglendut). Yusuf Peci Miring (sutradara), Beni Susilo, Ujang (penata setting) dan Dwi Vian (penata lampu) segera bergegas membuat plot blocking dan beberapa titik lampu. Mereka berempat berdiskusi dibawah pohon sawo di depan rumah joglo limasan.

Di tempat terpisah beberapa pemain sudah mulai menyiapkan diri untuk dirias. Ruangan itu semacam garasi yang disulap menjadi sebuah sanggar. Rencananya malam itu akan melibatkan juga beberapa pertunjukan dari anak-anak Sanggar Bunga Padi. Maka saat Dhani Brain (penata rias) melakukan make up, beberapa terlihat anak-anak sedang menyaksikan proses rias para pemain. Setelah semua pemain selesai make up, kemudian pemasangan lampu juga selesai. Pemain keluar dari garasi tadi, lalu kami melihat si pemilik rumah mendatangkan truk berisi pasir. Diturunkannya pasir tersebut didekat pendapa limasan itu. Ternyata pasir tersebut digunakan untuk meratakan tanah yang tampak bergenang air supaya tidak membuat tanah gembur.

Menjelang jam 19.00 wib pendapa yang sudah digelar tikar mulai dipadati para masyarakat sekitar dusun. Mereka terdiri dari para orang tua, sesepuh desa sampai dengan anak-anak. Tampak pula beberapa anak sedang merias diri mereka dengan mengenakan kostum yang akan mereka tampilkan. Malam itu selain Sanggar Bunga Padi yang tampil ada juga sanggar lain dari dusun sebelah dan sanggar anak-anak dari Radio Abata FM.

Penampilan pertama dibuka oleh Sanggar Bunga Padi dan anak-anak dari sanggar lain. Keramaian malam dan sorotan lampu menjadi sinyal sekitar dusun untuk semakin berbondong-bondong dan mendekat ke pendapa limasan milik Mas Agung. Hadir pula beberapa tokoh masyarakat setempat, wartawan Kedaulatan Rakyat biro Kulon Progo, Nanang Hidayat (pengajar Jurusan Televisi Fakultas Media Rekam ISI Yogyakarta) bersama Krisna Murti (seniman video art).

Pementasan ini pada awal adegan Sae, Lik Seni, Jarno Gaet dan Yu Siti masuklah (pemilik sanggar) untuk meng cut permainan untuk masuk pada sesi perkenalan balon Bupati Kulonprogo. Bagi kami ini adalah noise, bukan bagian elemen estetika. Diluar dugaan yang kompromis perkenalan dilakukan sebagai acara di dalam acara. Kami pun sebagai penyuguh tontonan tak bisa mengelak atas permintaan mendadakitu. Namun ini menjadi pelajaran penting bahwasanya praksis politik lokal itu kadangkala tidak logis. Asas pemanfaatan yang tidak menguntungkan secara esetetis dan proses pendidikan dasar demokratis (yang sesungguhnya). Padahal dalam perkenalan balon bupati tersebut hanya membagikan buku tentang kesehatan terkhusus kebidanan. Kalau hanya mau membagikan buku sebenarnya tak perlu sampai senarsis itu. Tak perlu “menunggangi” ruang kepentingan estetika komunitas kami. Ini jelas diluar tema pendidikan seperti yang diusung dalam lakon Bleg-Bleg Thing. Tapi inilah fakta bagian proses pembodohan massal. Haleluya.

Pementasan ini dirasa gagal secara estetika dan dramatisasi pengadeganan secara menyeluruh pertunjukan. Karena cuaca juga malam itu hujan deras jadi halaman panggung yang sudah di setting untuk adegan terpaksa tidak dipakai. Semua adegan berlangsung di dalam pendapa yang dimana itu tempat penonton. Jarak yang diambil akhirnya terlalu dekat dengan penonton tanpa jarak. Artistik yang dipakai hanyalah penataan cahaya untuk kebutuhan pembagian ruang antara pemain dan penonton.

Mulai babak dua sampai dengan akhir dilakukan dalam pendapa, itu diluar perhitungan estetika. Inilah pelajaran berharga dari suatu kasus tidak diduga sebelumnya. Karakteristik kampung berikut masyarakatnya yang terus harus dibaca. Kembali lagi kami belajar bagaimana proses mengorganisasi massa. Pendekatan yang lebih bisa persuasif lagi dan mengandalkan fakta lapangan itu bagi kami jauh lebih obyektif sekaligus mendidik. Secara mental untuk kami lebih bisa bekerja secara komunitas lebih maksimal lagi.

Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul DIY

Rombongan berangkat menggunakan bis kampus ISI Yogyakarta. Kami berangkat sudah jam 15.00 wib lebih. Ada bebrerapa teman khusunya penata cahaya berangkat menyusul karena persoalan studi. Ketika kami sudah sampai lokasi, semua barang dan alat pertunjukan diturunkan lalu mulailah dengan mapping lokasi. Lokasi tersebut terdapat pendapa tua yang sudah tak terurus lagi secara kebersihannya. Yusuf, Mas Beni Susilo dan beberapa teman mulai mendekati ruang untuk menata setting dan kebutuhan teknis pementasan. Lampu sudah di tatadibeberapa pohon, ada beberapa lampu di ikat dengan bambu (cagak).

Beberapa pemain mulai merias dibagian teras samping rumah si pemilik pendapa tersebut. Ketika jam 17.00 wib lebih teman pemusik (Katrok) dan penata lampu (Dwi Vian) datang, disusul kemudian dengan Dodi sebagai kameramen pertunjukan. Setelah selesai make up pemain sutradara dan pemain menempatkan diri untuk orientasi panggung menyangkut kebutuhan cahaya sekaligus blocking.

Pendapa saat itu digelar tikar untuk penonton dan bagian belakang untuk pemusik. Dibagian pojok depan dipakai untuk penata lampu. Sebagian tikar digelar di haaman depan pendapa dan ruas sebelah selatan dibawah pohon jambu. Ada bagian tikar yang digelar dekat teras yang berhimpitan dengan garasi tuan rumah.

Sesudah magrib, warga mulai mendekat ke tempat pertunjukan sebagian anak-anak sudah mulai menempati tikar. Sebab pertunjukan tersebut sudah diumumkan di desa dan sebagai pemicu datangnya penonton, Mas Indri memutar lagu kuntulan dan jathilan melalui mp3 dengan volume yang keras. Cukup dirasa ampuh karena bisa mendatangkan penonton untuk kemudian mendekat dan segera merapat ke tikar.

Pertunjukan malam itu dibuka dengan penampilan oleh salah satu warga setempat. Seorang gadis remaja yang membawakan tari tradisional. Mereka berdua adalah anak didik dari Bapak Waskito salah seorang penggerak seni tradisional dari Dusun Mangiran. Keduanya adalah mahasiswa jurusan tari dari Universitas Negeri Yogyakarta. Dua repertoar ditampilkan sekaligus,pembawa acara malam itu ditangani oleh salah satu pemain berpotensial yaitu Andi Pepok.

Pertunjukan Bleg-Bleg Thing dimulai dengan semakin bermunculannya warga dusun sekitar yang mulai berdatangan. Keramaian dengan lagu-lagu yang dinyanyikan pemain di adegan awal dirasa cukup komunikatif untuk mengundang warga yang lainnya berdatangan menyusul. Merapat ke tikar tempat penonton dan memenuhi sebagian pendapa. Babak awal munculnya Sae, Lik Seni, dan Jarno Gaet cukup interaktif bersama penonton. Karena dialog mereka bertiga terjadi di pinggir (tritisan) pendapa. Di pinggiran tersebut ada seorang warga yang duduk asik menonton. Diresponlah warga tersebut untuk masuk ke dalam cerita. Di sisi yang lain terdapat wanita sepuh yang duduk didekat pohon palem di pojokan pendapa. Nenek tersebut juga tak luput dari “serangan” interaktif dari dialog para pemain. Suasana di babak awal semakin segar saja, cukup renyah dan mengundang tawa.

Pertunjukan di Dusun Mangiran ini lebih banyak merespon kepada para penonton yang hadir. Setelah adegan awal yang terjadi bersama penonton, ada pula di adegan Jasmani yang muncul dengan nyanyian lagu pop berjudul “Ooo kamu Ketauan” yang populer dinyanyikan oleh Mata Band. Jasmani (Wawan) masuk dengan nyanyian tersebut dengan di iringi oleh kendang dan saron. Ditengah lagu Jasamani menarik salah satu penonton cewek untuk diajak berjoget di area pertunjukan. Pas di depan tiang jemuran bambu. Adegan ini berlangsung cukup natural serasa interaksi yang biasa terjadi ditengah pentas panggung musik.

Babak demi babak berjalan sangat cair, apalagi ditambah ketika Jono Kethek (Kadir) membuka wig nya pada adegan percakapan yang dramtiknya sudah cukup genting. Adegan itu justru melunak dan mencair seketika. Penonton waktu itu tidak beranjak sampai dengan akhir adegan. Meski beberpa bagian disebelah selatan pendapa beberapa warga mulai berangsur pulang. Anak-anak kecil tetap tak beranjak di lesehan paling depan, merekalah yang menjadi senjata paling komunikatif di setiap peristiwa naskah. Dengan begitu kami sebagai kelompok cukup yakin ketika yang dihadapi adalah penonton yang dominasinya masih anak-anak. Toh mereka juga bagian massa teater kami, sandiwara ini juga milik mereka. Anak-anak berhak untuk ikut ambil bagian ditengah keramaian pesta perayaan ini.

Dusun Kweni Sewon Bantul DIY

Dusun menjadi pilihan terakhir putaran pertunjukan kami. Jaraknya cukup dekat dengan perkotan Jogjakarta sebelah selatan yang berbatasan dengan Bantul. Jarak dengan kampus ISI Yogyakarta pun tak terlalu jauh. Kami sempat memperkirakan bahwa Dusun Kweni menjadi “jujukan” para seniman, akademisi dan rekan sejawat massa teater kota untuk mendatangi pertunjukan kami.

Lokasi yang kami pilih tepat disebelah timur masjid di Dusun Kweni. Tepatnya dibekas rumah yang runtuh terimbas gempa tahun 2006. Rumah tersebut mungkin dahulunya berbentuk pendapa atau limasan karena terlihat bekas ompak (penyangga saka guru). Disebelah barat rumah terdapat kandang sapi yang sudah usang, hanyamenjadi tempat penyimpanan kayu glugu. Sebelah timur rumah terdapat sumur dan kamar mandi. Kamar mandi sudah runtuh, sementara sumur masih berfungsi dengan baik. Lengkap dengan timba dan genthong untuk air wudlu.

Magrib menjelang sebagian pemain masih merias wajah di salah satu rumah warga yang letaknya dari lokasi pementasan hanya berdampingan. Kami mendapat informasi bahwa jam 19.00 bertepatan hari yang sama ada pengajian ibu-ibu. Kami sempat panik, namun diputuskan bahwa pementasan tetap mulai setelah pengajian selesai.

Lampu setting mulai menerangi sekitar lokasi pertunjukan. Pengajian pun akhirnya usai. Semua meringsek ke depan dan kami dikepung penonton dengan bentuk “letter L”. Inilah ketidak sengajaan yang kemudian diluar kuasa kami sebagai penyaji pertunjukan. Bahwa segala kemungkina bisa saja terjadi dengan spontan. Huruf L yang dibentuk oleh penonton secara natural itu mungkin semacam ilmu bagi kami bahwa bentuk panggung dalam teater lingkungan tidak bisa berjalan kaku dan baku. Semua bias saja berubah sesuai situasi dan kondisi peristiwanya. Pelajaran bagi kami bahwa inilah ilmu yang kami dapat, yang belum tentu bisa didapatkan di dunia teater akademisi. Teater lingkungan ya begitulah proses terjadinya, itu diluar naturalisasi yang sengaja sudah kami siapkan. Semua berjalan dengan sewajarnya saja.

Adegan ini dilokasi ini berjalan hampir sama di Dusun Pajangan, namun pemain cukup menemukan atmosfer permainan yang begitu hidup di dekat sumur. Seolah energi itu ada bahwa secara peristiwa lakon ini memang mendapatkan tempatnya yang pas menurut kami. Didukung pencahayaan yang begitu lunak dan warna general. Kami sempat heran juga setelah ibu-ibu pulang dari pengajian mereka justru mampir di pertunjukan kami. Mereka menyempatkan meski ada yang hanya melirik sebentar, ada yang kemudian duduk di tikar, ada yang mulai mencari tempat duduk paling nyaman untuk menonton. Itulah peristiwa yang luar biasa sekali.

Semua adegan berjalan sebegitu cair. Pemain tanpa beban melantukan dialog dengan tetap berusaha komunikatif bersama penonton. Malam itu sepeda, genthong tempat wudlu, bulan, jemuran milik warga, tumpukan ranting kering semua mampu direspon menjadi properti dan setting yang nampak murni. Pemain hanya memberikan sentuhan melalui respon dan dialog semua tampak menjadi bernyawa. Malam itu disekian penonton tampak seniman Heru Kesawa Murti, Ikun SK, Kusen Alipah Hadi dan Yohanes Siyamta seorang penulis sastra jawa mutakhir yang senantiasa mengikuti pentas kami beberapa tahun terakhir.

Inilah perayaan dan peristiwa kami. Kami hanya berusaha menyuguhkan lakon yang cukup representative untuk masyarakat dengan konteks dan isu yang sangat sederhana. Isu pendidikan kami bidik kemudian dijadikan tanggapan bersama penonton. Kadang kami mengumpani kadang pula justru kita yang dipancing penonton untuk saling menanggapi dengan seksama. Inilah sandiwara yang kami kelilingkan ke desa-desa, blusukan mencari ruang-ruang strategis namun artikulatif. Semangat pertunjukan kerakyatan yang kami usung bahwa teater itu milik siapa saja. Teater butuh dukungan massa dimanapun, khususnya pedesaan mereka relasi yang sangat social dan ekonomis. Akhirnya Komunitas Sego Gurih ini semakin yakin bahwa bahasa Jawa menjadi kekuatan otentik baik secara identitas maupun strategi kultural. Semoga kami semakin gurih dan renyah di mata penonton semua kalangan masyarakat teater dimanapun. Salam Segogurih, sandiwara merdeka dengan bahasa Jawa.

Elyandra Widharta, pertengahan Mei 2011. Diwaktu kami sedang rehat sejenak seusai pementasan keliling.