Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the divi-booster domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121

Deprecated: Optional parameter $post_types declared before required parameter $location is implicitly treated as a required parameter in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-content/plugins/monarch/monarch.php on line 3783

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the feeds-for-youtube domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home2/kelompo2/domains/kelompoksedhutsenut.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121
Membangun Relasi Melalui Teater “Tiban” | Kelompok Sedhut Senut

Malam itu suasana dusun yang setiap harinya sepi tiba-tiba dipenuhi begitu banyak penonton. Penonton berjubel mulai dari segala kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Hiburan dadakan (tiban) sengaja digelar oleh Komunitas Sego Gurih (KSG) dengan mementaskan sandiwara bahasa Jawa berjudul “KUP” karya / sutradara Wage Daksinarga, pada hari Minggu 15 Februari 2009 di Desa Malangjiwan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dusun Malangjiwan menjadi pilihan dan tawaran lain bagi KSG, melakukan pementasan dengan bentuk teater lingkungan yang komunikatif sekaligus representatif. Jalan tengah yang memisahkan dusun Malangjiwan Lor dan Kidul pada malam itu ditutup. Karena panggung dibuat melintas jalan yang biasanya digunakan untuk mobilitas penduduk desa. Mencari dan “menghadang” penonton begitulah yang dilakukan KSG beberapa waktu yang lalu.

Masyarakat Urban Di Tanah Mbuwangan

Cakruk (Gardu) sebagai centre of interest setiap adegan lakon ini memulai dan mengakhiri konfliknya. Setting tempat lakon ini adalah sebuah tanah kosong (mbuwangan) yang sudah dihuni bertahun-tahun. Seorang yang dituakan di tempat itu adalah Mbah Sarju (Ibnu “Gundul” Widodo). Ia tinggal seorang diri dengan aktivitasnya hanya bermain judi. Selain itu ada Edi Bakso (Yusup), Kancil (Toni) dan Jana Kutil (Yayan) mereka berempat adalah pemuda yang setiap harinya meladeni permainan judi Mbah Sarju. Sementara Mbokde Wiji (Nurul Jamilah) satu-satunya perempuan tua yang menjadi tokoh kontradiktif. Ia selalu menentang aktivitas judi yang dilakukan setiap hari di kampung mbuwangan tersebut. Isu yang terjadi karena kampung (lahan kosong) itu akan segera disita oleh pemerintah untuk dijadikan tempat pembuangan sampah. Hampir setiap kali disatroni oleh oknum aparat dan orang-orang suruhan (preman). Selain itu kampung tersebut menjadi tempat transitnya para penjahat, maling, copet, kecu, preman dan lainya. Sedangkan tokoh lainnya Pak Sapar (Elyandra) yang usianya hampi sepadan dengan Mbah Sarju dan Mbokde Wiji. Ia seorang pengamen yang dulunya bercita-cita jadi pengrawit tukang kendang. Dari sekian tokoh disini semuanya adalah berprofesi minoritas. Maka kegelisahan serta ketakutan yang melanda semua tokoh disini adalah penggusuran secara paksa dan penindasan hak asasi manusia. Atau permainan politik kekuasaan dengan mengambil lahan kosong itu secara paksa dengan menggunakan kekerasan.

Lakon ini mulai memperlihat dramatiknya ketika seorang preman bernama Gombloh (Wahid). Ia sebenarnya adalah alat aparat. Tetapi sisi lain, Gombloh orang yang sangat dipercaya sebagai pelindung kampung dari gangguan dan teror apapun. Sejatinya Gombloh preman yang masih memegang teguh persoalan kemanusian. Hanya saja ia dilema ketika ia harus tunduk terhadap kekuasaan yang membuat hatinya harus patuh jika ingin tetap selamat. Patuh terhadap sebuah problematika dilematis “system” kekuasaan bahkan konspirasi.

Teror penggusuran semakin memuncak saat Edi Bakso menginjak kotoran manusia di depan cakruk. Ia menuduh bahwa pelaku dari itu semua adalah orang-orang penghuni sekitar kampung. Kemudian tuduhan dijatuhkan kepada Mbah Sarju dan Mbokde Wiji. Perang mulut pun terjadi dan tak terelakan. Saling menuduh dan menyalahkan menjadi ketegangan yang sangat emosional. Teror kotoran manusia ternyata berhasil membuat penguni kampung itu menjadi teradu domba.

Salah satu konflik menjelang ending ketika Genjik (tokoh imajiner) ditemukan tewas. Genjik adalah korban kekerasan salah sasaran. Ia sengaja dibunuh oleh oknum untuk memancing amarah Gombloh agar dia menyerah terhadap aparat. Agar Gombloh mau mengaku kalah kemudian penggusuran kampung segera dilakukan. Sebab kematian Genjik pun sangat misterius. Semua penghuni kampung itu hanya dikabarkan bahwa Genjik mati karena korban tabrak lari. Sedangkan menurut kepolisian jasadnya masih utuh. Akhir adegan ditutup dengan Edi bakso yang harus pulang kembali desanya. Pak Sapar meningggalkan kampung tanpa tujuan yang pasti. Kemudian Gombloh sendirian yang sudah merasa kalah dan harus rela mengakui kekalahan. Ditambah jeritan histeris Mbokde Wiji ketika melihat Mbah Sarju mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dalam rumah.

Lakon KUP bercerita mengenai persoalan isu globalisasi dan perubahan sosial masyarakat kita dewasa ini. Dalam proses perubahan sosial tersebut selalu yang menjadi korban ialah masyarakat margin pinggiran kota (urban). Mulai dari konflik penggusuran, kekerasan, teror, penindasan dan sebagainya. KUP disini bukan urusan politik secara faktual pada umumnya. Dimana istilah KUP alias kudeta ini sering banyak dipakai dalam istilah per-politikan di Indonesia. Melainkan lebih banyak berbicara soal sosial kemanusiaan sebuah keluarga kampung mbuwangan. Bagaimana memanusiakan manusia itu tanpa harus menggunakan kekerasan.

Desa dengan Suguhan Teater Ndeso

Selama pertunjukan berlangsung ternyata tidak mengalami kendala apapun. Semua penonton dengan tertib mengikuti dan hanyut ke dalam setiap adegan. Jarak antara pertunjukan dengan penonton sengaja di buat sangat dekat. Meskipun beberapa adegan memang terkadang mencoba interaktif dengan penonton. Bahkan ada bagian adegan sedang berlangsung, tiba-tiba kameramen ikut masuk dalam pertunjukan. “Cut !” teriak si kameramen. “Maaf kawan-kawan kaset video habis jadi harus diganti terlebih dahulu” tambahnya lagi. Seketika penonton tertawa lepas, karena melihat semua pemain yang berdialog tiba-tiba cair menjadi diri sendiri dilanjutkan diam dengan silent act. Setelah kameramen berteriak action ! semua pemain segera melanjutkan dialog sesuai plot berikutnya. Sebenarnya ini adalah alienasi yang sudah disepakati bersama sebelum pentas berlangsung. Sengaja dilakukan karena kameramen tidak mau kehilangan momen hanya persoalan teknis mengganti kaset kamera video. Justru yang terjadi adegan ini sangat menarik, mengundang tawa dan spontan namun kembali intens seperti semula.

Kenapa memilih desa ? Sebab desa menjadi sasaran yang sebenarnya sangat ekonomis bagi sebuah tontonan teater berbahasa Jawa. KSG menganggap bahwa penonton (massa desa) selama ini sebenarnya adalah relasi strategis bagi sebuah kelompok kesenian yang berbasis kultur Jawa lokal. Desa sebagai “tempat pertunjukan” menjadi ruang interaksi dan dialog alternatif dalam peristiwa teater. Kebiasaan yang selalu dilakukan KSG selama ini memang selalu mementaskan setiap reportoarnya ke desa-desa dan kampung-kampung. Sangat minim dan jarang pentas dilakukan di panggung prosceneum. Bukan anti dan alergi terhadap konvensi, tapi KSG sengaja memilih bahasa dan kultur Jawa sebagai pilihan alat ucap. Rasanya bahasa Jawa tidak terlalu miskin untuk menjadi alat ucap sebuah peristiwa teater. Jika memang dianggap miskin, bukankah peristiwa dramatik dapat diciptakan dengan banyak unsur. Tapi rasanya bahasa Jawa cukup kaya. Minimalnya mampu mengakomodasi berbagai macam ide kreatif.

Penonton desa (massa desa) kurang dianggap sebagai sasaran pementasan teater realis modern. Lalu apakah teater realis modern hanya milik penonton kota (massa kota) dan akademis (massa teater). Bukankah teater itu harus mencari dukungan penonton dari segala segmen ? Kalau ingin bertahan dengan dukungan penonton, cari dan bangunlah relasi bersama penonton sedekat mungkin. Biar teater dan penonton saling memihak dan memiliki. Mencari dukungan kepada penonton itulah relasi yang sengaja dibangun KSG dengan gaya teater Jawa “ndesonya”. KSG tidak ingin menunggu penonton yang mencari pertunjukan tapi kami yang akan ”mencari dan menghadang penonton”. Di situlah pengertian dari kenapa kami mementaskan di beberapa tempat yang sebenarnya bukan standar gedung pertunjukan teater. Jadi penonton di sini dapat menikmati sebuah tontonan yang akhirnya bukan lagi menjadi masyarakat konsumen teater saja. Tetapi lebih dari itu biarlah menjadi peristiwa teater yang sifatnya sesrawungan guyub gayeng nganti sakmodare.

Elyandra Widharta, Ditengah maraknya sosialisasi caleg-caleg partai, Just Fuckin Shit. Februari 2009.