Pementasan produksi yang ke 20 tahun 2010 ini Komunitas Sego Gurih menggelar lagi lakon Suk-Suk Peng karya Bambang Widoyo SP untuk ke 5 kalinya. Lakon ini pernah dipentaskan sebelumnya tahun 2001, 2002, 2003. Kali ini KSG membawa keliling lakon ini mbarang ke 4 desa yaitu : (11 Juli) Balai Budaya Samirono, (14 Juli) Dusun Karangploso Piyungan, (18 Juli) Rumah Budaya TEMBI Bantul dan (25 Juli) Dusun Bantar Banguncipto Sentolo Kulonprogo. Terakhir kalinya pementasan ditutup pada (9 Agustus), di halaman samping rumah Ibu Surono seorang warga penggemar kesenian teater, yaitu di JL. Pakel Baru Nitikan, Yogyakarta.
Masih dengan bentuk yang kemarin dan selalu segar yaitu menghadang penonton. Bukan lagi menunggu penonton (massa kota) di gedung-gedung pertunjukan baku di tengah kota. Pilihan yang semakin di mantapkan saja karena proses untuk terus menciptakan strategi estetika yang selalu aktual sekaligus kontekstual. Penonton itu relasi. Relasi ekonomi dan sosial menurut hemat katanya dalam berteater KSG selama ini. Relasi yang terbangun karena hubungan timbal balik tetapi tidak melulu diukur dengan profit tertentu. Sama-sama berperan memainkan proses relasi, yaitu antara desa sebagai fasilitator dan KSG sebagai tamu produksi yang datang untuk mbarang. Di sini akan dimulai mengulas secara berurutan. Urutan pertunjukannya sebagai beirkut ;
Balai Budaya Samirono
Pendapa Balai Budaya Samirono Catur Tunggal Sleman, Yogyakarta malam itu jam 19:30 menjadi seting rumah seorang Ndoro Kakung (Elyandra) dan Putri (Dita) dengan kursi pas di tengah 4 soko gurunya. Di bagian depan pendapa sebelah kiri seting berlevel (dingklik kayu susun) dengan tikar, di sini ruang antara Emak (Nurul) dan Pelok (Ibnu Gundul). Sebelah kanan pendapa sebuah ruangan taman kanak-kanak yang pintunya menghadap keluar di gunakan untuk ruangan Klenyem (Yanti). Pembagian ruang hanya dibedakan dengan tata cahaya yang cukup.
Sembari menunggu penonton salah satu pemusik menyanyikan lagu-lagu dengan iringan keyboard memainkan nomor-nomor lagu pop yang di aransemen dangdut. Penonton sudah mulai berkumpul menempati tikar yang sudah kami gelar mengitari halaman pendapa, kemudian pentas dimulai. Dengan lirik ; selamat datang bapak ibu dan pemirsa // ini teater sego gurih siap sedia // mari kawan mari bersorak gembira // teater ini akan menghibur anda semua // diulang 2 kali. Disusul tetembangan dengan lirik di nyanyikan para pemain sambil duduk berjajar berdesak-desakan, lirik tersebut sebagai berikut : Suk – suk peng tengah dewe dadi gepeng // Gepeng munggah kaji rambute gari siji // Mbukak lemari isine roti // Roti – roti atos silite mbledos…mbledos…mbledos..silite ambeyen. Begitu cair suasana awal di buka, pemain masih berjajar mendengar Sawito, Katrok. Toni, Jipna, Dadang, sebagai tim pemusik menembangkan sepenggal lirik ;
Pemusik : ngamboro ing awang-awang
Pemain : apalaneee….
Pemusik : angelangut
Pemain : mbok liyaneee…..dst
Adegan pembuka dimulai dengan suara riuh lagu yang dilantunkan para pemian dan pemusik dengan lirik folklore tersebut di atas. Lirik tersebut dirasa cukup mewakili adegan sebagai kemeriahan pesta rakyat yang riuh renyah sebuah perayaan yang tak terelakan. Beberapa alat perkusi kenthongan, kendang, bonang, kempul ikut ditabuh para pemusik.
Adegan berjalan dari awal sampai pertengahan cukup rapi, khususnya bagian Emak dan Pelok mempunyai potensi untuk terus komunikatif dan intearaktif dengan penonton. Namun ada beberapa kendala vokal yang memang harus menggunakan kekuatan ekstra mengingat pendapa balai budaya begitu terbuka lebar. Tikar tempat penonton hampir dipenuhi dari segala segmen mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua. Sesekali guyonan muncul atas tanggapan kerenyahan (clekopan) penonton yang terus setia mengikuti adegan dengan seksama. Namun ada beberapa ketika beberapa pemain melontarkan kata yang vulgar (pisuhan) ada beberapa penonton mengeluhkan karena ada diantaranya penonton anak-anak.
Disamping kanan dari penonton terdapat sebuah warung angkringan yang sengaja berjualan, namun angkringan tersebut menjadi ruang yang mampu di respon oleh Emak dan Pelok. Sesekali angkringan tersebut masih juga nyambi menjajakan jualannya kepada penonton lainnya yang sekedar membeli minuman atau rokok. Ruang sebelah kiri penonton yaitu ada bangunan Taman Kanak-kanak, itupun juga direspon sebagai rumah Ndoro Kakung yang banyak menjadi spektakel adegan Klenyem dengan aktivitasnya sebagai pembantu dari Ndoro Kakung. Sampai dengan adegan yang begitu tegang penonton masih mengikuti. Bahkan ketika pada klimaks terakhir Emak meninggal ketika Pelok membacakan surat karena kabar penggusuran, penonton ikut hanyut terbawa dalam suasana.
Secara sosiso-geografis masyarakat Samirono sebenarnya sudah terbiasa dengan beberapa tontonan dan peristiwa kesenian yang boleh berlangsung di Balai Budaya tersebut. Mengingat Balai Budaya ini dibangun juga merupakan fasilitas dan media komunitas masyarakat Samirono untuk beraktualisasi, berapresiasi dan beredukasi bersama melalui kesenian. Jadi secara mentalitas mereka sudah terbiasa dengan tontonan berbasis tradisi, kerakyatan maupun modern sekalipun.
Dusun Karangploso, Sitimulyo, Piyungan
Pementasan kedua ini digelar lagi setelah jeda 1 minggu tepatnya 18 Juli 2010. Febriyan Eko Mulyono sebagai pimpinan produksi Komunitas Sego Gurih kali ini bekerja sama dengan Sanggar Omah Opak. Sanggar yang beraktivitas dibidang kesenian dan kebudayaan yang di gawangi oleh seorang pemuda giat yaitu Muklas. Awalnya rembugan pementasan ini berlangsung karena Muklas meminta kepada Yusuf PPM agar Sego Gurih mau mendatangi Dusun Karangploso dengan pementasan. Akhirnya dimasukan dalam jadwal produksi pementasan keliling
Muklas memberitahukan sebelumnya bahwa dusun ini mayoritas memeluk agama Islam dan secara sosio-komunal cukup religius. Berkaitan dengan hal itu kompromi pun dilakukan, mengingat lakon ini secara teksnya memang banyak mengungkapkan tersurat kalimat vulgar berupa pisuhan. Beberapa pisuhan akhirnya diminimalisir.
Sebelumnya tim artistik pun tidak akan menyangka kalau pembuatan panggung akan terjadi seperti teater arena terbalik (dimana panggung pemain yang mengapit tempat penonton). Hal itu terjadi begitu saja secara alamiah (istilah Mas Beni sebagi art director memang seting yang “meng ada-ada”). Malam itu panggung di bagi menjadi 2, untuk adegan Ndoro Kakung dan Ndoro Putri di letakan di teras rumah Pak Dukuh setempat. Seberang jalan rumah Pak Dukuh tersebut ada bekas bangunan roboh akibat gempa bumi tahun 2006 yang sengaja di biarakan hampir mirim bong suwung tapi tidak begitu luas. Gumpalan batu bata masih sedikit berserakan, sebagian lahan ditumbuhi pohon pisang yang sengaja dipelihara salah satu warga setempat. Jalan tengah yang melintas diantara teras Pak Dukuh dan bekas bangunan tersebut yang dijadikan tempat penonton.
Hal ini menjadi temuan baru bagi KSG yang kemudian di sebut Sapit Urang, temuan ini ditegaskan oleh Yusuf PPM sebagai sutradara pertunjukan malam itu. Teater arena yang secara tidak sengaja terbalik. Penonton yang dikupeng oleh pertunjukan. Jadi penonton berada ditengah permainan yang dikepung oleh adegan di teras rumah Pak Dukuh dan bekas bangunan yang menjadi lahan pohon pisang. Pemisahan kedua ruangan tersebut memainkan cahaya lampu yang begitu tangkas oleh Dwi Vian yang cukup memperhitungkan secara tepat. Karena akurasi ketepatan ruang juga mempengaruhi irama permainan yang menyangkut persoalan tangga dramatik yang sedang dibangun sejak awal.
Penonton semuanya mengikuti dengan begitu cair bahkan satu persatu ikut dalam “liarnya” adegan karena malam itu dirasakan adegan begitu saja mengalir. Semuanya bermain dengan nyaman. Bahkan dominasi komunikatif bersama penonton tidak bias lepas satu persatu. Cair dan sangat cair. Menjinakkannya sampai susah karena keiinginan penonton belum tentu keinginan dari alur cerita lakon itu sendiri. Penonton malam itu menyaksikan dengan sangat cair sekali bahkan ada beberapa adegan yang selalu dengan rajin di ikuti coleteh para penonton. Semuanya bebas saja terjadi, “itulah peristiwa yang kemudian memang sangat sulit dijinakan oleh permainan yang sudah terlanjur komunikatif”, tambah Yusuf. Ada kalanya memang alienasi bisa saja terjadi saling mementahkan dialog dalam rangka mengembangkan pola improvisasi.
Adegan ending ditutup dengan kecelakaan yang dilakukan oleh Jarot (Kadir) saat itu dia menginjak kursi tamu ruang Ndoro Kakung namun kursi terebut patah klak ! Kadir terjatuh justru mengundang riuh tawa penonton yang tak henti-hentinya. Sahut penonton secara reflek, woo..ijoli…wah…tombok…wah kursine Pak Dukuh tugel. Itulah penonton, kami tak berhak menghentikan lajunya responsif yang begitu rajin mengamati pertunjukan dengan jeli dan teliti.
Rumah Budaya Tembi Bantul
Pementasan putaran ketiga berlangsung di sebuah kantong budaya di selatan kota Yogyakarta. Rumah Budaya Tembi ini memang acap kali sudah menjadi ruang pertunjukan alternatif. Karena bentuknya yang masih mengacu pada konstruksi bangunan rumah pendapa (Joglo) yang begitu megah dan artistik. Bagian belakang lengkap dengan gebyok dengan pintu masuk ke arah pringgitan kemudian di depan gebyok terdapat seperangkat instrumen gamelan komplit.
Setingan pementasan kali ini masih mengacu pada bentuk sapit urang, istilah yang ditemukan Yusuf PPM di Karangploso Piyungan. Panggung di bagi menjadi dua bagian ; Ndoro Kakung dan Ndoro Putri ditempatkan di dalam pendapa lengkap dengan perabotan kuris dan meja. Sedangkan Emak dan Pelok ditempatkan pada depan tritis pendapa yang memanfaatkan lesung sebagai tempat duduk. Ada penambahan seng yang didirikan tegak mengahadap frontal ke arah panggung Ndoro Kakung. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol pembangunan dan ironis realitas sosial yang saling berbenturan.
Jarak penonton malam itu begitu sangat dekat terutama waktu adegan awal kita menyanyikan lagu pembuka. Masik dengan lirik yang sama seperti di awal pertunjukan ketika di Balai Budaya Samirono. Namun faktor yang menjadi pengaruh penting selama pertunjukan adalah pengkondisian semua pertunjukan. Mayoritas penonton adalah mahasiswa ISI Yogyakarta beberapa memang teman kampus. Masyarakat sekitar Rumah Budaya Tembi hampir bisa dipastikan beberapa jumlahnya. Justru nota bene mereka adalah usia orang tua sampai lansia.
Secara keseluruhan pertunjukan berjalan begitu seperti adanya, namun respon secara peristiwa tidak begitu semeriah di Balai Budaya Samirono dan Dusun Karangploso Piyungan. Hal ini bisa dibandingkan dengan kondisi sosial penonton yang sudah terbiasa dengan tontontan atau belum pernah sama sekali. Idealnya jika masyarakat sekitar Rumah Budaya Tembi seharusnya sudah terbiasa dengan tontonan kesenian, mengingat Tembi sudah sering terjadi peristiwa seni pertunjukan dalam bentuk apapun.
Malam itu yang dirasakan pemain adalah adegan yang begitu berat untuk menaikkan emosi baik secara permainan ataupun mempengaruhi penonton. Sebagian penonton pulang ketika kotak saweran berlangsung ditengah adegan Pelok dan Klenyem. Padahal seperti pertunjukan sebelumnya saweran selalu diumumkan sebelum pertunjukan dimulai. Malam itu kita mendapatkan saweran sejumlah sekitar Rp 100.000, sedangkan di Balai Budaya Samirono sekitar Rp 300.000 kemudian di Dusun Karangploso mendaptakn Rp 200.000. Selisih tiap tempat pertunjukan hampir ditaksir sekitar beda Rp 100.000.
Dusun Bantar Sentolo Kulonprogo
Putaran keempat ini Sego Gurih diminta oleh Mas Towil (Ketua Paguyuban Onthel Jogja – PODJOK) untuk mementaskan Suk-Suk Peng. Pementasan ini juga bertepatan dengan acara penutupan Djambore Onthel Indonesia yang dilaksanakan pada 18 Juli 2010. Acara malam itu sengaja mengundang Komunitas Sego Gurih untuk menampilkan repertoarnya yaitu Suk-Suk Peng sekaligus menjadi acara penutup perhelatan komunitas onthel Podjok.
Sore hari beberapa masyarakat Dusun Bantar sudah berjualan mulai dari tempura, es jus, sampai mainan anak-anak. Menginjak malam hari beberapa pedagang bertambah di seputar jalan dusun. Lampu-lampu panggung mulai menyala dan bunyi spiker seolah menjadi pertanda bahwa malam nanti akan ada tontonan. Anak-anak kecil mulai penasaran berdatangan mendekati tempat pertunjukan tersebut. Disusul kemudian rombongan bersepeda onthel dari usia tua sampai dengan yang muda.
Acara pembukaan di buka oleh Mas Towil selaku Ketua Podjok dan sempat menghadirkan sesepuh pegiat onthel. Begitu acara dibuka langsung dibuka dengan lagu-lagu pembukaan sebagai pemanasan untuk memancing warga masyarakat agar segera berdatangan.
Adegan awal dimulai penonton masih tidak begitu bersahabat semua masih merespon dingin. Mungkin ini menjadi tontonan perdana ketika teater masuk Dusun Bantar. Ditambah setingan tempat dimana menaruh makanan dengan konsep resepsi itu berdekatan dengan tempat duduk adegan Ndoro Kakung, sehingga terjadi respon yang begitu mentah sekali antara penonton yang sedang asik menikmati makanan dengan pertunjukan yang sedang berlangsung. Entah karena faktor seting yang terlalu berdekatan itu atau karena penonton memang tidak siap atau memang penonton tidak mau tau dengan teater karena tujuan datang ke acara tersebut hanya menghadiri acara penutupan dan makan kemudian selesai.
Pertunjukan berjalan cukup aman, ada beberapa adegan yang mengundang tawa ketika para pemain sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menaikkan emosi permainan lebih lagi. Semua mencoba merespon ruang yang ada. Mulai berdialog dengan seorang Ibu yang sedang menimba air di sumur, Ibu tersebut menanggapi terus secara komunikatif hingga tidak sadar bahwa dialog tersebut terjadi dalam pertunjukan. Inilah persitiwa yang tak bisa di jinakkan, tambah Yusuf PPM. Seolah hanya mengikuti apa kemauan penonton. Bentangan dramatika yang sudah dibangun sejak awal sengaja “dibelokkan” karena bukan kecelakaan tapi inilah teater yang saling menyapa dengan penonton.
Para pemain sempat tidak merasa nyaman dengan halaman depan rumah Mas Towil yang bertekstur bebatuan. Jadi permainan harus mengandalkan alas kaki seperti sandal misalnya. Karena jika tak beralas kaki terasa sakit karena bebatuan besar yang berserakan. Untuk berlarian saja seolah merasa takut untuk menginjak bebatuan saja merasa tak yakin. Semua serba nanggung.
Namun pertunjukan tetap berjalan meski beberapa dihiraukan penonton karena aktivitas standing party berdekatan dengan panggung. Terserah! Suk-Suk Peng tetap jalan bagaimanapun inilah proses peristiwa yang sedang kami bangun didaerah yang mungkin belum pernah sama sekali kedatangan seorang tamu yaitu pertunjukan teater tiban.
Halaman Rumah Ibu Surono Kampung Nitikan Umbulharjo
Rencana pementasan ini sebenarnya sudah ditutup ketika pertunjukan terakhir diputaran Dusun Bantar Kulon Progo. Komunitas Sego Gurih berencana untuk mengadakan njenang sumsum untuk menutup rangkaian pertunjukan keliling. Karena rencana tersebut di ketahui oleh salah satu “kolega baru” Sego Gurih kemudian diminta bagiamana kalau njenang sum-sum tersebut juga digelar sekaligus disisipi pementasan yang terakhir sebagai penutupan yang sesungguhnya.
Akhirnya rembugan dilaksanakan, kami ditawari untuk melakukan pertunjukan terakhir di halaman samping rumah Ibu Surono seorang warga kampung Nitikan Umbulharjo Yogyakarta yang juga penggemar sekaligus pelaku kesenian tradisi. Halaman itu hanya terdiri sebuah panggung dari kayu mirip rumah panggung. Beratap seng dan tonggak penyangganya hanya glugu, sedangkan luasnya hanya kurang lebih sekitar 4 X 6 meter.
Panggung bagian belakang hanya ditutup dengan kain putih sebelah kiri ditutup dengan kain hitam. Di isi seting dengan kursi dan pembatas slintru berbalut kain hitam. Pemusik menempati sebelah kanan area penonton mereka lesehan di tritisan rumah.
Musik pembuka mulai mengalun, lagu-lagu populer campu sari mulai di dendangkan warga sekitar mulai berdatangan. Tikar berlapiskan terpal menjadi alas penonton untuk duduk menyaksikan dengan lesehan. Pertunjukan dimulai dengan para pemain yang bermunculan dari berbagai arah panggung, kemudian duduk merapat dibibir depan panggung masih dengan lagu mars Sego Gurih dan disusul Suk-Suk Peng. Semua penonton cukup menyambut dengan tawa yang masih sedang alias medium.
Pertunjukan berlangsung beberapa joke terjadi dan menambah komunikatif bersama penonton. Bisa dikatakan penonton warga kampung ini memang sudah siap ataupun “terbiasa” dengan pertunjukan. Mengingat disebelah kampung tersebut yang berbatasan dengan wilayah Pandeyan, kedua kampung ini masih mempunyai aktivitas dengan kesenian ketoprak. Apalagi beberapa penonton yang datang boleh dikatakan kaum berpendidikan, jadi dengan segala apapun yang terjadi dalama pementasan mereka cukup merasa nyaman. Ada dialog yang berbunyi misuh pun mereka tetap tak mempersoalkan. Semua tetap interaktif dan lancar bahkan seluruh pemain merasakan pertunjukan ini mengalir seperti waktu di Balai Budaya Samirono dan Dusun Karangploso Piyungan.
Pertunjukan diakhiri dengan jenang yang dibagikan cuma-cuma ke penonton, dengan ditemani ubi rebus dan kacang bersama teh panas. Semua menikmati seusai pertunjukan, masih dengan duduk santai sambil para pemain berkemas membersihakan make up. Musik pun masih berbunyi dengan dendangan penyanyi yang menyanyikana lagu campur sari menuju pungkasan.
Rembug gayeng pun di gelar setelah beberapa penonton pulang meninggalkan tempat pertunjukan. Saat itu dihadiri beberapa seniman teater yang sengaja diundang untuk bisa hadir memberikan beberepa komentar, usulan dan kritik kepada pertunjukan kami. Malam itu yang sudi hadir ada diantaranya yaitu : Masroombara, Heru Kesawa Murti, Whani Darmawan dan Ong Hari Wahyu. Ada beberapa tamu lain seperti M. Jalidu (Balai Budaya Samirono), Towil (Dusun Bantar), Muklas (Dusun Karangploso), Gembes (Teater Gadjah Mada) dan masih banyak teman yang lainnya. Semuanya lebur menjadi satu rembugan yang cukup menarik sembari setiap perwakilan masing-masing dusun yang pernah kami singgahi pun memberikan kesaksian ketika kami menggelar pertunjukan di sana. Akhirnya semua berjalan begitu adanya, pada intinya Sego Gurih harus selau berproses untuk tetap berada pada pihak penonton yang didatangi. Penonton harus terus selalu disapa dengan diajak memberikan pemikiran kritis atas nilai-nilai melalui pertunjukan.
Dan jangan pernah untuk terlalu dini menganggap peristiwa teater semacam itu menjadi sesuatu yang eksotimse, tambah Ong Hari Wahyu. Semuanya demi bertumbuhnya Komunitas Sego Gurih untuk terus membuat pertunjukan yang konfirmatif, istilah Heru Kesawa Murti. Terus peracaya diri dengan bahasa Jawa, tambah Masroombara. Ditangkis oleh Whani Dramawan bahwa Komunitas Sego Gurih segera ditunggu menggarap sinopsis cerita bertema RUU Keistimewaan DIY, yang sudah ditulis dan diberikan tanpa syarat ketentuan berlaku untuk segera direspon. Salam Sego Gurih.
Elyandra Widharta, ditulis sudah begitu terlambat waktuya terhitung sejak pertunjukan terakhir. Tapi biarlah semoga menjadi preview pertunjukan yang bermanfaat. 15 September 2010. Suk-Suk Peng ini pun juga ditolak panitia seleksi Festival Teater Jogja 2010, tetapi tetap melakukan keliling desa pentas sampai 5 kali.