Prolog
Sebagai sebuah kelompok teater, rasanya perlu arah yang jelas jika masih ingin hidup lebih lama lagi. Setelah itu dengan berbagai cara, Komunitas Sego Gurih (KSG) mencari terus arah-arah tersebut. Tentu saja dengan kerja-kerja kreatifnya. Jika memang selama ini memilih bahasa Jawa sebagai alat ucap, barangkali karena faktor kebetulan dan reflek. Baru kemudian dicari berbagai macam pemikiran, alasan yang menjadi landasan dalam memilih. Minimalnya untuk mempertebal iman serta keberanian pada pemilihan tersebut. Kebetulan yang dimaksud di sini, ialah karena individu-individu dalam KSG lahir sebagai wong Jawa ndesa. Tentu saja dengan tingkat wawasan yang ndesa pula. Maka disetiap harinya berinteraksi dengan berbahasa Jawa, sehingga wajar jika merefleksikan sesuatu (baca : berkarya) dengan bahasa dan cara-cara yang setiap harinya kita lakukan. Mungkin karena itu dekat dengan kehidupan.
Karena persoalan-persoalan tersebut, rasanya kesulitan jika harus menjabarkan ideologi apa saja yang dibawa KSG. KSG belum menemukannya baru dan masih mencari secara kreatif. Karena itu pula kita harus menentukan gaya (style) bagaimana menjadi dan terus mencari identitas KSG.
Bahasa Jawa menurut hematnya bukan sekedar bahasa ibu dan ulat ucap praktis sekaligus strategis di atas panggung. Banyak semangat serta dialektika yang terlalu dalam. Ya, karena memang perlu ditegaskan kembali bahwa kebetulan kita orang Jawa. Jawa adalah kultur yang sangat religius dan spiritualis. Mengoceh diatas panggung dengan bahasa Jawa, konon orang bilang itu natural. Tetapi natural yang seperti apa itu masih perlu dicari kemudian dipahami. Natural menurut siapa ? pelakunya, penikmatnya, ataukah peristiwanya ?
”Seolah hanya memainkan diri sendiri, dan bukan tokoh” tambah penonton. Bagaimanapun hakekat sandiwara adalah peran yang dirahasiakan. Rahasia yang nantinya juga akan dibeberkan didepan penonton. Sandiwara Jawa, serahasiakah apa gagasannya ? Rahasia atau bukan akan dibongkar sekarang juga demi terwujudnya sebuah gagasan berteater. Itulah gambaran ketika akan berbicara mengenai tataran konseptual. Konsepsi pertunjukan teater bahasa Jawa. Mohon maaf harus diawali dengan prolog yang ndakik-ndakik.
Jawa Ngoko Progresif
Bahasa Jawa biasa diwudani nganti blejet ketika naskah lakon sudah didapat ditangan. Dilanjutkan dengan tidak terburu-buru terlebih dahulu berpikir panjang mengenai bentuk pemanggungan. Terlalu prematur untuk urusan yang satu itu. Yang dilakukan ialah mengalir sesuai proses kreativitas. Membaca alias reading, kemudian kami mulai meraba-meraba dan mencari apa itu soul (nyawane) bahasa Jawa. Membaca dan terus membaca! Seperti belajar tembang macapat kami mencari dan pahami dahulu guru lagu, guru gatra kemudian guru wilangan. Seberapa tone yang kami dapat, terlepas dengan karakter jenis vokal masing-masing personil. Karena itu yang menjadi rujukan ketika sutradara melakukan kasting sesuai lotre peran akan jatuh kepada siapa.
Dilanjutkan proses mencari bentuk irama dalam laku tanpa stilisasi atau dibuat-buat layaknya mainstream drama modern. Oleh karena bahasa Jawa ialah bahasa yang sedang mengalir dalam darah ini. Memang secara psikologis kami menyebutnya semacam playback sekaligus impression. Pengertiannya menurut definisi atas versi kerabat Sego Gurih ialah begini :
Playback : teknik memutar/memainkan kembali aksi, tindakan atau peristiwa yang sudah pernah dilalui atau dikerjakan. Dalam rangka mengemas ingatan tersebut ke dalam laku saat ini dan sekarang. Minimal mampu mendukung transformasi perwujudan dan pencitraan soul sebagai orang Jawa. Baik yang sedang atau akan dicapai mampu menciptakan rerferensi sekaligus interpretasi secara personal terhadap tokoh.
Impression : setelah teknik playback dilakukan kemudian timbulah kesan. Kesan itulah yang nantinya mampu dihadirkan sedemikian rupa untuk perwujudan tokoh berikut soul-nya. Bersamaan dengan situasional dramatik yang terjadi dalam realitas panggung. Meskipun terkadang realitas yang sebenarnya masih terbawa di atas panggung.
Segala kondisi dan situasi yang sedang dilihat bahkan dirasakan didepan mata. Misalnya bangsa sedang gencar menginformasikan fenomena apa ? Ini berkaitan dengan kontekstualisasi bahkan ketika mencoba keluar dari dialog sebentar dengan improvisasi. Improvisasi yang dimaksud bukan lantas keluar dari plot yang sudah ada. Tapi upaya aksi dan strategi menghadapi lawan dialog dengan bekal eksplorasi yang sudah ditemukan untuk capaian sinergis irama permainan. Tidak meunutup kemungkinan keluar dari konvensi dramaturgi yang sudah ada. Sebab bahasa Jawa tanpa improvisasi itu muspra. Bahasa Jawa itu tidak kaku. Jawa adalah bahasa yang demokratis, toleransi tinggi, kompromis dan cerdas estetika. Luwes, lincah, sigap, tangkas bahkan bisa ngejazz dalam mengejawantahkan teks dan konteks apapun.
Pemanggungan disini yang dibayangkan dalam kepala bukanlah “ideologi” cecak nguntal empyak. Tetapi lebih berbicara sesuatu yang sederhana mulai dari yang sederhana pula. Proses pertukaran gagasan dan gesekan kreatif yang slaman-slumun-slamet. Tanpa harus rekasa memaksakan diri untuk berkeliat dengan persoalan diluar yang rumit. Bahasa Jawa bukan kerumitan yang bertele-tele ditengah kemudahan akses dunia digital diera hiper-gigapolitan ini.
Teater Bahasa Jawa yang bermanajemen saling ngewongke antara sutradara, aktor, tim setting, tim make up & kostum, tim lampu, tim pemusik, tim produksi. Srawung yang bertujuan untuk keikhlasan kerja kreatif. Bersama mengurai gagasan mengenai bahasa Jawa secara sosio-kultural dari prespekti yang majemuk. Prespektif anak-anak muda dari jaman kekinian ini. Bukan kekinian yang jika kami diperbolehkan kemaki, boleh kami sebut itu kontemporer. Biarlah itu asumsi yang muncul karena unsur ketidaksengajaan ataupun alineasi yang sudah kami persiapakan sebagai strategi. Lebih tegasnya strategi kelompok teater bahasa Jawa dalam pengucapan estetika.
Isu Sosial sebagai Teks
Dalam proses perubahan sosial tersebut selalu yang menjadi korban ialah masyarakat pinggiran kota (grass root). Mulai dari konflik penggusuran tanah, kekerasan, penindasan, diskriminasi, hak asasi dan sebagainya. berbicara soal sosial kemanusiaan sebuah masyarkat. Kehidupan sosial masyarakat urban ditanah kosong milik pemerintah di pinggrian kota. Lakon-lakon yang terbiasa menanggapi persoalan bagaimana ngewongke-wong (memanusiakan manusia) itu tanpa harus menggunakan kekerasan. Terlepas secara konteksnya konflik semacam ini masih kerap terjadi dalam masyarakat dan bangsa ini.
Masalah urban chaos tentu bukan hal baru tetapi seiring dengan fenomena dan perkembangan zaman, wilayah ini selalu kondusif terjadi dimana saja. Sampai hari ini pun pemicu konfliknya masih sama yaitu ; bahwa akarnya adalah kemiskinan. Jadi keberangkatan yang dijadikan pijakan awal sebagai teks adalah isu. Isu apa saja, kapan saja dan dimana saja yang penting menurut kami itu masih kontekstual untuk dinikmati dan ditanggapi. Tidak ada kata basi untuk hal menyangkut isu. Basi hanya persoalan waktu. Selanjutnya akan di-reinterpretasikan sesuai kebutuhan penyampaian gagasan dan estetika.
Isu-isu sosial memang agaknya terlalu murahan untuk diangkat menjadi sebuah teks. Tapi bagi KSG tidak. Konflik seperti inilah yang terus mengalir dan menjadi semangat untuk membangun kekuatan secara spiritual dalam menyikapi hidup. KSG hanya menanggapinya melalui representasi kehidupan di atas panggung. Tanpa didasari muatan politik sedikitpun. Tapi proses pembelajaran dan penyadaran sosial tanpa tendensi untuk mengusik ketenangan siapapun.
Kerja kreatif yang dilakukan adalah mengoptimalkan banyak elemen pendukung. Dituntut kompromi yang lebih lama, antara elemen-elemen tersebut. Elemen antara penata gerak, penata setting, musik juga penata cahaya. Kenakalan-kenakalan dan keliaran kreativitas yang muncul dari pemain, pemusik, penata gerak, penata setting, penata cahaya bahkan penonton latihan (proses) sekalipun bisa menjadi penyumbang proses penyutradaraan. Oleh karena untuk kedepannya KSG mampu membentuk dirinya sendiri secara alamiah. Tidak gamang dalam menentukan langkah selanjutnya. Berani memilih bentuk-bentuk artikulasinya, memilih gaya dengan mantap. Gaya KSG yang konsisten sekaligus intens berbahasa Jawa. Langkah ini diharapkan mampu mendewasakan komunitas, guna pencapaian banyak hal, baik pada wilayah kreativitas, manajemen maupun estetika sebagai pendukung dan hidupnya rumah tangga sebuah komunitas teater.
Sedikit demi sedikit mulai belajar meninggalkan gaya serta naskah-naskah Teater Gapit yang kemarin-kemarin banyak dilakukan oleh KSG. Rasanya bahasa Jawa tidak terlalu miskin untuk menjadi alat ucap sebuah peristiwa teater. Jika memang dianggap miskin, bukankah peristiwa dramatik dapat diciptakan dengan banyak unsur. Tapi rasanya bahasa Jawa cukup kaya. Kaya untuk terus menanggapi isu yang terjadi. Minimalnya mampu mengartikulasikan isu sosial dengan berbagai macam gagasan kreatif sekaligus representatif.
Artistik
Berikut ini pola artistik yang biasa dilakukan ketika melakukan pertunjukan yaitu, Tata Rias : Menggunakan tata rias sebagai mana sering digunakan dalam teater. Mengacu dan mementingkan kepada penguatan karakter wajah. Berikut dipertimbangkan masalah intensitas tata riasnya karena berhubungan dengan tata cahaya, tempat pementasan diluar ruangan atau outdoor dan pendokumentasian dengan kamera video maupun foto.
Tata Busana : Menggunakan busana sesuai petunjuk dan interpretasi naskah. Sesuai karakter dan status sosial tokoh. Pilihan warna dan tekstur kain busana yang dikenakan harus mengacu pada persoalan konteks naskah.
Tata Cahaya : Bisa menggunakan lampu oncor atau listrik semua tidak penting yang jelas dengan lilin atau senter, petromat pentas tetap akan dimulai. Cahaya bisa memberikan suasana dan jenis lampu yang berbeda akan mendorong suasana dan kondisi yang berbeda pula. Namun tetap pementasan ini tidak ketergantungan dengan pencahayaan yang canggih ataupun hi-tech
Tata Musik : Musik keroncong dengan pilihan lagu-lagu yang sudah familier ditelinga masyarakat. Dengan cara perlakuan dan aransemen musik yang tidak harus pada konvensi musik keroncong sesungguhnya. Bebas dan terkadang aksen humor bisa terjadi selama musik berlangsung. Melalui lirik, tingkah para pemusik, gaya vokalisnya ataupun interaktif dengan penonton. Musik disini bersifat ilustrasi, soundtrack maupun penanda pergantian adegan dan petunjuk waktu.
Penonton sebagai Relasi Sosial – Ekonomi
Situasi sosial politik kita sedang memanas. Begitu teriknya sehingga mudah terbakar amarah yang disulut dari emosi apapun. Isu yang bergulir bagaikan bisul yang mudah pecah kemudian menjalar kemana-kemana dan menular. Sedang bergejolak apakah bangsa ini ? Televisi kita sementara masih sibuk dengan berita pesta pemilu sebentar lagi. Bursa caleg pun tidak lagi analog tapi merambah dunia digital. Itulah salah satu gambaran keramaian dan hiruk pikuk kota.
Gedung pertunjukan masih terlihat sepi. Tak ada pementasan di sana. Sekumpulan orang-orang panggung sedang istirahat dari teriakannya. Sedang bergumam apakah yang akan dikerjakan untuk menyambut pemilu berikut hasilnya. Sementara desa-desa juga merindukan tontonan. Massa desa sudah menunggu. Teater kapan kowe pentas neng ndesaku ?
Sebenarnya pilihan tempat pementasan KSG tetap seperti pada awal gagasan. Antara lain desa dan kampung-kampung kota. Akhirnya Perkampungan ditengah kota menjadi rumah pilihan bagi KSG untuk mengadakan pementasan. Rumah yang tidak sekedar boleh dikunjungi tapi boleh juga diakrabi. Rumah yang nanti kita menciptakan peristiwa teater bersama-sama. Persitiwa kebudayaan dengan melibatkan unsur apa saja dan siapa saja. Peristiwa dan perjumpaan diluar rumah yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Pementasan selama ini dilakukan dengan membidik segmentasi penonton yang sangat fleksibel dari berbagai macam kalangan. KSG tidak ingin mengkotak-kan penonton, justru usaha yang selalu dilakukan adalah bagaimana sebuah pertunujukan teater itu menghibur, namun tetap interaktif, komunikatif dan representatif. Maka untuk mencapai target tersebut kami sengaja untuk tidak mementaskan di gedung-gedung pertunjukan yang sudah baku atau konvensional (prosceneum). Justru pemanggungan akan dilakukan di desa-desa maupun kampung-kampung kota. Maksudnya di sini ingin memberikan tawaran baru dengan bentuk pementasan teater lingkungan. Teater yang belajar peka terhadap lingkungan sosialnya. Bagaimana teater merespon dan bersinergi dengan lingkungan, baik tempat, atmosfir maupun penonton. KSG tidak ingin menunggu penonton yang mencari pertunjukan tapi kami akan ”mencari dan menghadang penonton”. Di situlah pengertian dari kenapa kami mementaskan di beberapa tempat yang sebenarnya bukan standar gedung pertunjukan teater.
KSG ingin Pertama, menyuguhkan dengan format ”teater yang ingin menghibur” itu saja. Tidak lagi teater yang akan mengkhotbahi dan mengajak penonton berpikir secara khusuk, kemudian harus menemukan kesimpulan mufakat antara pelaku teater dengan penontonnya. Kedua, menggeliatkan kembali pementasan teater bahasa Jawa yang tergolong langka. Ketiga, memprovokasi grup-grup teater lainnya untuk rajin memproduksi atau reproduksi tontonan teater yang berbasis kerakyatan di kampung-kampung kota dan desa. Dengan harapan massa desa dan kampung ikut terprovokasi untuk menciptakan serta mendirikan komunitas hiburan mereka secara mandiri. Keempat, mengajak masyarakat untuk kembali bisa mengapresiasi kebudayaan lokal Jawa melalui teater. Kelima, memberikan tawaran alternatif bentuk tontonan teater modern berbahasa Jawa dengan idiom lokal. Meskipun lokal identik dengan ndeso. Tetapi lokalitas Jawa yang diambil KSG disini adalah semangat. Membangun relasi sedemikian karib sekaligus intim bersama massa teater urban.
Epilog
Mungkin terlalu nggedabyah tulisan ini. Tapi inilah Komunitas Sego Gurih. Yang tak lain mampu membuat pementasan dimanapun bentuk panggungnya. Kami bukan kelompok teater pingitan yang harus panggung prosceneum. Kami bisa mandiri tanpa stage konvensional. Kami tidak menunggu penonton mencari, tetapi kami mau menghadang penonton. Kami akan bikin sebuah keramaian pasar tiban dengan teater. Di desa, di kampung dan di pinggiran kota urban ini (Jogjakarta). Inilah relasi secara kultural yang sedang kami lakukan. Relasi tanpa memandang perbedaan golongan apapun. Massa teater – massa kota – massa desa adalah penonton sekaligus relasi, merekalah pasar yang sesungguhnya. Teater bahasa Jawa biarlah menjalin kekeluargaan bersama penonton. Berbagi sesuatu yang adil dan spiritual. Sama rata – sama rasa. Dan kedaulatan demokratis sebuah peritiwa tontonan pun tak ketinggalan. Kembali kepada yang lokal sebagai bekal semangat untuk menghadapi isu-isu kontemporer dewasa ini.
Elyandra Widharta, Tulisan ini menjadi pengantar ketika Sego Gurih memproduksi lakon “KUP” karya Wage Daksinarga Februari 2009, akhirnya pun Sego Gurih dinyatakan gagal seleksi di Festival Teater Jogja 2009. Tetapi total melakukan pertunjukan KUP keliling sampai 6 kali.