Senyum Grace untuk Clue sutradara
Malam hari ini cerah, langit penuh bintang bertaburan, cahaya sinar purnama lembut menerpa Balai Budaya Tembi yang malam itu menggelar sebuah Reportoar Teater berbahasa Jawa oleh Komunitas Sego Gurih yang berjudul “Suk- Suk Peng” Para penonton cukup banyak memenuhi pelataran pendopo yang sebagian besar duduk lesehan di tikar. Grace yang duduk disamping ku nampak antusias menunggu pentas ini berlangsung. Wajahnya berharap-harap cemas. Binar matanya menyorotkan sejuta keingintahuan. Berkali-kali ia mengucapkan “suk- suk peng”, mencoba memfasihkan dialeknya yang agak sengau, kebarat-baratan. Ia sering tersenyum sendiri ketika salah atau fals mengucapkannya. Aku yakin saat ini pasti otak yang ada di kepalanya sedang berkontraksi untuk mencari tahu makna dari kata “suk- suk peng”, ini.
Hmm.. ternyata judul benar-benar mempunyai arti penting. Judul bisa memberikan gambaran, seperti apa pertunjukan teater berbahasa Jawa ini akan ditampilkan, seperti halnya konsep semiotik Peirce yang mengatakan bahwa tanda mengacu pada sesuatu yang disebut objek. Yang disebut objek adalah yang mewakili atau menggantikan. Judul pementasan “Suk- Suk peng” ini bisa dikategorikan sebagai objek yang kemudian menggantikan atau mewakili sebuah karya dalam hal ini pertunjukan teater. Pierce kemudian membedakan fungsi referensial antara tanda dengan acuan melalui triadik yaitu ikon, indeks, dan simbol . Judul dalam hal ini dikategorikan sebagai ikon. Ya, pertunjukan teater sepertinya sarat dengan tanda- tanda (semiotik), hal tersebut diungkapkan oleh Veltrusky seorang strukturalis dari kelompok Praha ia menetapkan bahwa segala sesuatu yang dalam kerangka teater pada dasarnya merupakan kumpulan tanda-tanda. Hal serupa juga dikatakan oleh Tadeuz Kowzan seorang semiotis strukturalis, bahwa kaitannya dengan semiotisasi objek, maka segala sesuatu yang ada dalam presentasi teater adalah tanda.
Pencarian makna judul “suk- suk peng” yang dilakukan Grace akhirnya mendapatkan titik terang ketika pada adegan pembuka (prolog) seluruh pemain muncul dan duduk berjejer, mereka kemudian saling mendorongkan bahu mereka kekanan dan kekiri sambil bernyanyi ,”Suk-suk peng sing didhesuk gepeng.” Artinya suk-suk peng yang didesak gepeng. Gerakan suk-sukan ini dilakukan seirama dengan irama lagu suk-suk peng yang dilantunkan para pemusik. Suk- Suk Peng adalah nama permainan tradisional anak-anak Jawa di masa lalu. Permainan ini melibatkan lebih dari dua orang yang melakukan kegiatan ”suk-sukan” ’berdesakan’ dengan saling mendorongkan bahu mereka ke kanan dan ke kiri. Grace tersenyum penuh makna, mendapat clue dari sutradara tentang arti judul pertunjukan ini. Ia serasa mendapat tiket untuk menembus babak berikutnya. Menurut aliran semiotik komunikasi yang merupakan perkembangan dari semiotik Saussure interprestasi sutradara dalam permainan “suk- suk peng” yang ditampilkan dipanggung tidak hanya mempunyai arti denotasi yaitu permainan tradisional saja, akan tetapi mempunyai arti konotasi yaitu simbol sebuah masyarakat (kaum marjinal) yang selama ini digusur (disuk- suk) hingga tak berdaya (gepeng).
Sambil menikmati para pemain yang bersuk- suk peng obrolan kami berlanjut tentang tradisi teater barat pada abad ke 20 dan hingga kini terus terjadi, bahwa tanggung jawab atas pengorganisasian sistem tanda dalam teater ada pada seorang sutradara. Pada satu sisi dramawan adalah pencetus sistem tanda kebahasaan, sedangkan sutradara memegang kontrol atas bentuk teater dengan tugas mengorganisasi sistem penandaan dalam teater (lighting, dekor, property dan lain- lain) kedalam suatu proses termodifikasi yang selaras dengan suatu teks. Kami sepakat clue yang baru saja diberikan oleh sutradara tentang suk- suk peng adalah salah satu hal yang dilakukan oleh sutradara pentas malam ini dalam mengorganisasikan sistem tanda. Jika dilihat dari penulis naskahnya, yaitu Bambang Widoyo Sp, sejauh ini naskah- naskah yang ia ciptakan sebelum ia meninggal dunia memang kental dengan bahasa Jawa (Solo) dan kritik social yang biasanya dimainkan oleh Gladi Teater Gapit. Naskahnya terkesan vulgar, karena tak jarang kata- kata yang seronok, yang berupa makian sering ikut eksis dalam panggung. Maka gambaran tentang sebuah sajian yang sarat dengan kritik sosial kemudian menyeruak dikepala kami berdua. Pertanyaan berikutnya, Kritik sosial yang bagaimana yang akan disampaikannya dalam naskah “suk- suk peng” ini?
Setelah adegan pembuka, lampu perlahan redup kemudian gelap, kulirik sebentar ke arah Grace, karena purnama, wajahnya samar- samar masih dapat aku pandangi, ia nampak tenang dan santai, tapi matanya yang biru tampak begitu menyelidik, sepertinya ia memang menyiapkan dirinya untuk melihat pertunjukan ini. Kalau sudah begitu biasanya sesudah pertunjukan selesai kami akan berdiskusi di angkringan Lik Min Bugisan. Hmm… Aku juga harus memiliki bekal untuk bahan diskusi nanti. Aku yakin dan mantap, kali ini aku akan melihat sistem tanda- tanda semiotik menggunakan teori Tadeuz Kozman yang katanya paling simple dan mencerminkan arus pemikiran strukturakisme Praha, meskipun aku tahu masih banyak tokoh- tokoh semiotik teater yang lain seperti halnya Keir Elam yang aku kagumi, Aston dan Sonova, A.J Greimas J. Veltrusky juga yang lainnya.
Menonton bersama Kozman
Kozman membagi sistem tanda dalam pertunjukan teater menjadi 13 sistem tanda . Yaitu kata, nada, mime, gesture, gerak, make up, hair style, kostum, properti, setting, lighting, musik, sound effects.
Menurutnya, kelompok kata, nada, mime, gesture, gerak, make up, hair style, kostum,adalah sistem tanda yang berhubungan langsung dengan aktor, sedang sisanya adalah sistem tanda yang berada diluar aktor.
Kutarik nafasku dalam- dalam, kutahan sebentar, kemudian kuhembuskan perlahan sambil merapal doa. Huuuh.. Aku mulai menyiapkan diri untuk mengapresiasi pertunjukan ini dengan Kozman yang meluruh bersamaku. Kupikir- pikir, sepertinya aku akan menggunakan satu sistem tanda saja supaya lebih fokus dalam mengamati pertunjukan ini, yaitu kata, meskipun sebetulnya aku agak tergoda dengan konsep pemilihan pertunjukan yang ada dipendopo apalagi ternyata panggung terdiri dari dua bagian, yang satu didalam Penopo dan sekitaranya sedang yang satu lagi diluar pendopo, tepatnya dibelakang penonton, aku yakin penonton harus sering membalik badan untuk mengikutinya. Belum lagi benda- benda yang ditaruh pada setting, seperti lesung yang digunakan sebagai kursi, juga seng- seng yang sengaja ditempel, kemudian….ee.eee.. ups…! betulkan, aku hampir tergoda.. jika diterus- teruskan..
Lampu perlahan- lahan mulai menyala disertai bunyi sound effects hujan, penonton terbawa suasana hujan, Suasana hujan dikuatkan dengan sistem tanda kata oleh Pelok situkang Koran dan Emak si tukang kerok.
Pelok : silit- silit..! udan kok ngrusakke acara, bras- bres sak geleme dewe,
kacau- kacau! bubrah kabeh mak daganganku.
Emak : lha iya, klambiku teles kabeh untung nganggo jaket, udan kok koyo ngene derese.
meskipun tanda hujan, hanya diwakili oleh sound efeeck, ternyata yang tak kalah penting bagi penonton adalah bukan apa yang secara nyata nampak diatas panggung tetapi apa yang dipersepsinya berdasarkan apa yang diucapkan oleh aktor, imaji penonton terbangun bahwa mereka benar- benar nyata adegan tersebut hujan turun. Dengan demikian apapun yang dapat dipersepsi oleh indera menurut kata- kata aktor dapat juga dipersepsi oleh audiens. Penerapan tanda kata tersebut dapat juga terlihat pada dialog :
Pelok : ajeng ider teng pundi mak, lha wong mendunge tasih kandel koyo ngene iki. Setu- setu niku prei mak, ben koyo pegawai negri.
Pelok : mendung peteng koyo ngene kok arep apel mak, baju basah karena hujan, apel kok kembro, mboten hot mak..
Makna dialog ini menggambarkan kontiunity adegan yang baru saja berlangsung, mendung bisa saja terjadi, meskipun hujan baru saja berhenti, selain itu juga menandakan bahwa hari ini adalah hari sabtu, sehinga relevan jika Emak bertanya masalah Apel pada Pelok. Penguatan sistem tanda mendung didukung oleh dialog- dialog (kata) setelahnya, diantaranya saat Pelok nembang lagu dolanan anak- anak yang biasanya dilakukan untuk meminta hujan saat langit sedang mendung. Menurut pengalamanku saat kecil, biasanya setelah menembangkan lagu tersebut hujan akan segera turun, atau sering pula tembang ini dinyanyikan saat hujan sudah mulai turun dengan penuh semangat. Aku yakin, dinegara Grace yang terkenal dengan gedung putihnya, tidak ada hal- hal seperti ini.
Pelok : udano sing deres. Tak opahi duduh pedes
Dandan’o sing pantes. bres- bres. 2X
kata dandan’o sing pantes, ternyata juga dimaknakan untuk tokoh Klenyem seorang pembantu rumah tangga yang saat itu sedang menunggu kekasihnya (pelok) disaat hujan sedang lebat. Tembang (kata) mereka saling bersambung. Apa yang di tembangkan pelok supaya hujan ternyata betul- betul terjadi
Klenyem : kang pelok bulane ora ketok, dandananku meblak- meblok aku pengen dicipok- pok, pok 2X.. (tembang)
Ujane deres tenan..
Dumeh wes danan.. kang pelok ra rumongso yen dienteni
Waduh macane isih tenger- tenger nang kono,
Jika dicermati, kata- kata bulane ora ketok dan udane deres tenan, menguatkan tentang hujan, sedangkan dandan’o sing pantes dan dandananku meblak- meblok merupakan satu kesatuan, juga mencirikan tokoh pembantu, dalam berdandan mereka hanya ala kadarnya dan terkesan ndeso, jika dibandingkan orang yang strata sosialnya lebih tinggi. Kata macane isih tenger- tenger ini ditujukan untuk ndoro kakung dan Putri, yang berarti penjaga, macan identik sebagai hewan penjaga, dalam hal ini para Babu (klenyem) supaya tidak keluar.
Kata Rematikmu lho. Yang ditucapkan Ndoro kakung untuk Ndoro Putri sebetulnya sudah cukup menandakan rematiknya, meskipun dalam akting Ndoro Putri kurang dibangun karakter bahwa ia sedang kedinginan terkena angin saat hujan lebat, bukankah rematik identik dengan udara dingin yang menusuk.
Pada saat Klenyem membakar gereh pethek (Ikan asin) untuk membuat ndoro Putri dan kakung pergi(masuk kedalam rumah), dialog Ndoro Putri dan Ndoro kakung menguatkan kata tersebut, meskipun para penonton tahu bahwa klenyem hanya membuat asap dari arang yang dikipasi.
Ndoro putri : Iki mesti klenyem sing bakar gereh pethek
Ndoro kakung : Nyem..! klenyem..!, sing ngobong gereh petek ki sopo.?.
Pada saat Ndoro Putri masuk kedalam rumah, Ndoro kakung memanggil Kleyem untuk mencari benggol (uang) kerokan dan mengerok badannya, Klenyem menolak dan memberikan usulan supaya tukang kerok yang biasanya saja atau Ndoro Putri yang mengerok badan Ndoro Kakung yang baru Bludrek ( Pusing). Ternyata kerokan ini hanyalah alasan klise Ndoro kakung untuk bisa memperdaya Klenyem, apalagi kata Iki Kuduhu dicoba, mempunyai pengertian, bahwa ia ingin mencoba untuk mereguk alias meniduri Kleyem. Hmm.. ternyata orang Bludrek memungkinkan melakukan apa saja diluar nalar, termasuk meniduri Klenyem. Jadi berhati- hatilah kalau ada orang Bludek atau kita sendiri sedang Bludrek.
Adegan tersebut disambung dengan teriakan Pelok yang memaki- maki kucing yang baru kawin (kucing gandik), dan menyebutnya sebagai kucing gendeng, yang sebetulnya tak lain identik dengan Ndoro kakung yang bludrek sehingga gendeng (gila), kucing kawin biasanya ribut sekali suaranya, ini identik dengan Ndoro kakung yang riuh memaksa Klenyem. Secara tersirat, kemarahan pelok pada kucing sudah tepat, karena Ndoro kakung yang memperdaya kekasihnya dengan kekuasaanya.
Setelah lampu perlahan- lahan redup, terdengar Suara ayam jago berkokok, kemudian lampu perlahan- lahan menyala kembali, suara Ayam jago menandakan pergantian hari meskipun adegan dan pakaian mereka masih tetap sama. Hari ini Emak libur bekerja, ini hari geblak (meninggalnya) suaminya, menurut pengalaman Emak, ini hari yang tidak bagus untuk bekerja. Tapi Pelok mencoba menasehatinya dengan mengatakan : sedino entok 5 geger lumayan mak, dadi pol- pole entuk loro setengah ewu. Dari kata tersebut bisa dianalisis bahwa satu kali Emak mengerok badan seseorang tarifnya lima ratus rupiah.
Pada saat Jarot muncul, ia berteriak- teriak memaki, karena terpeleset atau menedang sesuatu. Kata yang ia ucapkan menggambarkan keadaan tempat tersebut, yaitu sebuah kampung yang sedang digusur untuk sebuah pembangunan, gelap dan ada batu- batu bekas pembongkaran tembok, yang diwakili dengan para penonton yang duduk. Jarot agak kesulitan melewati mereka menuju panggung, ia tersandung- sandung badan penonton yang memang berkerumun.
Jarot : bajigur.. prongkalan tembok didangkrakke neng kene. Nyandungi sikil
Kok petenge koyo ngene iki, wah jan, Bajingan jebul dudu dalan to kene iki
Kata yang diucapkan Emak yang menjawab pertanyaan Jarot tentang keberadaan Tinah (PSK) “Biasane ki yen ra selak digondol uwong, jam songo”. Digondol uwong yang dimaksud adalah diajak kencan seseorang. Sedangkan kata yang diucapkan Pelok yang berbunyi : biyen ki, pas isih tok centengi tok kapak- kapakke gelem.. Tok tumpaki yo manut.. neng saiki kowe ra duwe hak maneh, yen arep nganggo yo mbayar.. Tok centengi artinya dikuasai Jarot untuk dimanfaatkan, identik dengan para mami (mucikari), Tok tumpaki berarti bersetubuh, begitu juga dengan kata arep nganggo(mau memakai) yang maksudnya juga bersetubuh.
Setelah Jarot pergi, Pelok keluar dari persembunyian, dan berkata pundi mak, kucinge gandik pon lungo? kata kucing gandik yang ia ucapkan sekarang mempunyai makna berbeda dengan sebelumnya, jika sebelumnya menandakan ndoro kakung, sekarang Jarot.
Dialog Pelok yang seolah- olah membacakan sebuah headline surat kabar membuat Klenyem terpukul, karena kata- kata itu tepat mengenai dirinya yang sebelumnya telah ditiduri oleh juragannya, dan menyebabkan dirinya hamil.
Pelok : Pejabat mbuh sopo anu jenenge menggarap habis- habisan babunya yang bahenol, babunya yang montok
Sedangkan dialok Pelok yang mengatakan : Saiki jaman edan Mbalang tai kudu dibalas tai.. melempar tai harus dibalas dengan tai, tai identik dengan sesuatu yang kotor dan bau, maka perbuatan kotor (jahat) Ndoro kakung harus dibalas dengan perbuatan/ cara kotor (jahat) pula, yaitu membuat surat kaleng berisi ancaman.
Menerima hal itu Ndoro kakung makin bludrek, apalagi ketika Jarot datang sambil mengamuk dirumanya dan mengatakan bahwa anaknya, Prasojo, membawa lari istri orang, yang tak lain adalah Tinah (PSK). Ndoro kakung meregang nyawa. Disusul dengan Ndoro Putri, kemudian Emak yang meninggal karena tak kuat mendengar berita bahwa makan suaminya yang didesa telah digusur.
Emak disini menyimbolkan rakyat kecil yang tak berdaya yang disuk- suk jadi Gepeng. Begitu juga Pelok dan Klenyem, menjai korban kekuasaan yang disimbolkan dengan kesewenang- wenangan Ndoro Kakung. Mereka tak berdaya dan harus rela menanggung semuanya, mereka semua disuk- suk menjadi gepeng. Inilah pesan yang ingin disampaikan perihal kritik social.
Kata Yang Bersambung
Meskipun berlainan tempat, sering sekali dalam pertunjukan ini akhir kata sebuah adegan menjadi permulaan bagi adegan berikutnya. Ini disampaikan supaya adegan satu dengan yang lainnya tidak terputus emosinya, tiap adegan terus berkesinambungan. Misalnya saat Pelok berdialog seolah- olah memanggil klenyem, tiba- tiba klenyem menyahut “ya ndoro.., seolah- olah ia memang sedang dipanggl oleh ndoronya. Ini juga dapat dilihat hampir diseluruh adegan seperti saat Pelok nembang udano sing deres.., klenyem menyahut, prut- prut.., Ndoro Kakung memaksa Klenyem untuk mengeroki badannya, Emak juga akan mengeroki salah seorang penonton yang tak sengaja berada didekatnya dan pelok meneriaki kucing yang sedang kawin (kucing gandik) yak tak lain adalah Ndoro Kakung, Pelok mengatakan “mak, niki- niki pun merembet kemasalah serius, jenengan dereng ngerti menopo, adegan selanjutnya, Ndoro Kakung tampak bingung melihat koran yang memberitakan anaknya yang suka pada dangdut. Dangdut identik sebagai kesenian murahan yang tak level dengan level priyayi macam mereka. Dangdut tidak bisa untuk cari makan, juga yang lainnya.
Konsep kata yang bersambung sebetulnya menjadi kekuatan dalam pementasn ini, akan tetapi karena timing pemunculannya sering kurang pas, dibebeerapa tempat menjadi memutuskan emosi dan pesan.
Tanda Yang Kompleks
Hal paling penting yang kemudian harus digaris bawahi adalah, ternyata sistem tanda dalam pertunjukan teater tidak bisa berdiri sendiri, tapi saling berdampingan dan menguatkan. Sistem tanda dalam teater adalah kompleks. Misalnya keadaan dingin, bisa diwujudkan dengan kata- kata dan acting aktor, juga dengan sound effeck, sistem- sistem tanda tersebut saling menguatkan. Salah satu contoh yang dapat dicermati dalam pementasan ini adalah Gereh petek yang dibakar klenyem. Akting batuk- batuk klenyem, Ndoro Putri dan Ndoro Kakung dengan nada dialohg yang ingin muntah menguatkan imaninasi tanda bahwa yang sedang dibakar Klenyem memang betul- betul Gereh petek. Begitu juga untuk menguatkan peran seorang emak yang berumur 30 tahun dapat dilihat dari berbagai tanda- tanda misalnya kata, nada, kostum, make up, gesture gerakan, begitu juga tokoh yang lain.
Dialog yang diucapkan oleh Nurul yang memainkan peran Emak bisa mencerminkan seseorang wanita yang berumur 50 tahun, padahal ia baru berumur 24 tahun, hal tersebut juga terjadi pada tokoh Pelok dengan kata- kata yang ia ucapkan Penonton dapat memahami, mengikuti kesepakatan yang dibuat sutradara dan aktor bahwa Gundul adalah pelok si tukang Koran yang berumur 28 tahun. Begitu juga dengan tokoh Klenyem seorang Babu, Ndoro Kakung, Ndoro Putri, dan Jarot seorang preman (bajingan). Mereka telah berhasil menggunakan kata- kata yang mereka ucapakan untuk mewakili tokoh yang mereka perankan. Maka fungsi terpenting bahasa dalam teater adalah dari penggunaan bahasa itu sendiri oleh actor. Maka dapat terlihat bahwa bahasa memiliki kemampuan mencetuskan makna yang tak terbatas. Ini berarti tanda- tanda kebahasaan dapat menggantikan semua tanda lain yang ada dalam teater, kecuali tanda-tanda gestural dan proksemik. Saussure mengatakan bahwa tanda kebahasaan terdiri dari dua bagian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, yakni penanda (signifier) atau squencs bunyi dan petanda (signifier) atau konsep yang mengacu pada bunyi tersebut
Pelan- pelan aku srupuutt teh poci wasgitel didepanku. Manis rasanya, sayangnya tak semanis nasib pelok, Klenyem, Emak dan Tinah. Mereka menjadi simbol masyarakat kecil yang selalu kalah. Yang selalu di suk- suk peng. Grace tampak tersenyum manis sambil menyantap brongkos didepanku, siap dengan diskusi kami.
Philipus Nugroho Hari Wibowo SSn, Staf Pengajar Jurusan Teater ISI Yogyakarta
DAFTAR PUSTAKA
Annette Lavers and Colin Smith, Elemen of Semiologi Roland Barthes, New York : Jonathan Cape.Ltd. 1968
Umberto Eco, A Story of Semiotic, Bloomington : Indiana University Press. 1976
Ikramullah Mahyuddin (terj), Membedah Mitos- Mitos Budaya Massa : Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi, Yogyakarta: Jalasutra . 2007
Keir Elam, The Semiotics of Theatre and Drama ,London : Rout- Ledge. 1991
Kurniawan, Semiologi Roland Barthes, Magelang : Yayasan Indonesiatera. 2001
Nur Sahid, Semiotika Teater, Yogyakarta : Lembaga Peelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 2004
Nyoman Kutha Ratna, Estetika Sastra dan Bdaya, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2007
Patrice Pavis, The Theatre At The Crossoads of Culture, London : a Division of Routledge, Chapman and Hall.Inc. 1992